Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

Ditjen PAUD dan Dikmas Terjunkan Tim PascaBencana Ke Padosigi

Ditjen PAUD dan Dikmas Terjunkan Tim PascaBencana Ke Padosigi
Dirjen PAUD dan Dikmas, Sesditjen PAUD dan Dikmas bersama Kabag Keuangan dan BMN, Kasubdit Progrev Ditbindiktara, dan Ka Balai Sulteng

19 November 2018 10:18:03

Bencana menyisakan berbagai persoalan. Baik fisik maupun psikis bagi korban terdampak bencana, terutama anak-anak. Sektor pendidikan pun menerima pukulan hebat dari gempa dan tsunami, khususnya di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Mutong (Padosigi).

 Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, pun terpanggil untuk memberikan bantuan baik berupa pakaian dan keperluan sekolah dan memberikan pelayanan trauma healing terutama bagi anak-anak usia dini.

 Gempa yang mengguncang Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah, pada 28 September 2018 telah menyebabkan sekitar 186 ribu peserta didik di 1.724 satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK terdampak. Adapun tiga daerah terparah yang terdampak adalah Kota Palu, Donggala, dan Sigi.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, mengatakan bahwa bencana itu pascabencana gempa bumi dan tsunami seperti yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, trauma psikologis kerap mendera, terutama anak-anak dan akan berpengaruh pada masa depan mereka. Sehingga penanganan pascabencana ini sangat penting, seperti kegiatan trauma healing.

 “Bencana pasti membuat kita sedih dan kehilangan segalanya. Namun sebagai pelayan bagi masyarakat. Kita harus lebih dulu untuk bangkit, dan segera memberi layanan kepada mereka yang membutuhkan. Meski kita juga bagian dari korban. Mari segera bangkit, dengan memberi layanan kepada yang membutuhkan pasti semua trauma akan hilang,” ungkap Harris saat berdialog dengan pegawai Balai PAUD dan Dikmas Sulawesi Tengah, Rabu (17/10/2018).

Selain berdialog, Harris juga bercengkerama dengan anak-anak usia dini korban bencana di posko trauma Healing di Kabupaten Donggala.

 Menurut Harris, Tim Ditjen PAUD dan Dikmas selain bergabung dengan Posko Utama Kemendikbud yang berpusat di Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Sulawesi Tengah, juga mendirikan beberapa posko dan tenda darurat untuk menyalurkan bantuan serta memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana.

“Tim Ditjen PAUD dan Dikmas langsung bergerak sehari setelah bencana Sulawesi Tengah untuk membantu pemulihan dan pembangunan kembali. Tim tersebut nantinya akan bersinergi dengan tim relawan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) lainnya, sehingga tidak ada tumpang tindih bantuan baik itu yang berupa barang ataupun program di masyarakat,” papar Harris.

 Tim pascabencana alam Ditjen PAUD dan Dikmas terdiri dari perwakilan Sekertariat Ditjen PAUD dan Dikmas, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Dit. Bindik Akstara), Direktorat Pembinaan Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (Dit. Bin PAUD), Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (Dit. Bindikkel) dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Kursus dan Pelatihan (Dit. Bindiksuslat). Juga diterjunkan tim dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PAUD dan Dikmas Provinsi yang berada di Pulau Sulawesi, yaitu: Sulawesi Barat (Mamuju), Sulawesi Utara (Manado), Sulawesi Selatan (Makassar), Sulawesi Tenggara (Kendari), Gorontalo (Gorontalo) dan juga Sulawesi Tengah (Palu), termasuk juga Saka Widya Budaya Bakti (SWBB).

 “Sebelum Tim Passcabencana Ditjen PAUD dan Dikmas diterjunkan ke lokasi pascabencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah tanggal 4 hingga 25 Oktober 2018. BP PAUD dan Dikmas di seluruh Indonesia bergerak mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak, terutama BP PAUD dan Dikmas yang berada di Pulau Sulawesi,” ungkap Harris.

Kegiatan Tim Pascabencana Ditjen PAUD dan Dikmas selain memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar BP PAUD dan Dikmas, juga mendata satuan pendidikan nonformal yang terkena dampak gempa dan tsunami. Berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi, kabupaten/kota, UPT kemendikbud, dan NGO di posko pendidikan yang dipusatkan di LPMP Sulawesi Tengah, mendirikan tenda darurat utk PAUD yg terkena dampak bencana, juga memberikan trauma healing kepada bantuan berupa trauma healing bagi tenaga pendidik dan anak-anak terdampak bencana. Salah satu kegiatan Trauma Healing yang dilaksanakan oleh Tim Tanggap Darurat Ditjen PAUD dan Dikmas dengan menerjunkan Pendongeng Kak Dandi untuk menghibur dan memberi motivasi anak-anak korban bencana, sehingga anak-anak tahu yang harus dilakukan ketika bencana gempa melanda.

 Gempa yang mengguncang Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong pada 28 September 2018 telah menyebabkan sekitar 186 ribu peserta didik di 1.724 satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK terdampak. Adapun tiga daerah terparah yang terdampak adalah Kota Palu, Donggala, dan Sigi. Berdasarkan Pusat Data Kemendikbud, terdata 2.736 sekolah dari PAUD hingga SMA yang terdampak mulai dari kerusakan ringan sampai hancur total. Sementara data dari BP PAUD dan Dikmas Sulawesi Tengah, terdata di Kabupaten Donggala ada sekitar 159 TK yang terdampak dan 425 guru menjadi korban bencana, Kabupaten Parigi Moutong ada 2 Kelompok Bermain, 12 TK, 621 anak usia dini, sedangkan Kabupaten Sigi ada 91 Kelompok Bermain, 206 TK, 7084 anak usia dini dan 437 guru TK, sedangkan Kabupaten Palu 92 TK, 4856 anak usia dini, 421 guru PAUD, LKP 8 unit, PKBM 3 unit, dan SKB 1.(***)

Semua Berita