Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

LKP Pasopati - Mencetak Wirausaha Bengkel

LKP Pasopati - Mencetak Wirausaha Bengkel

11 Desember 2018 07:49:17

Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggulan (PKWU) di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Pasopati, Kota Tegal, Jawa Tengah menitikberatkan pada pelatihan wirausaha bengkel sepeda motor. Hasilnya, tiga kelompok usaha bengkel berkembang. Dengan penghasilan lebih dari Rp2 juta per bulan.

LKP Pasopati yang fokus pada keahlian mekanik otomotif sepeda motor berdiri pada tahun 2008, tepatnya pada tangal 6 November 2008. Didirikan oleh 3 orang yang profesional dalam bidangnya, Syafrudin (Pimpinan), Rokhmiyati (Bendahara), dan Edi Pramono, ST (Sekretaris). Pada awal pendirian, kata Syafrudin, LKP Pasopati didasari banyaknya anak-anak muda yang menganggur di wilayah Tegal. Sehingga harus dicari solusi untuk membantu pengentasan pengangguran dan kemiskinan masyarakat.

“Kami bertiga sepakat untuk membantu anak-anak usia produktif di wilayah kami agar bisa bekerja dan memiliki keahlian, khususnya di bidang bengkel sepeda motor,” ungkap Syafruddin.

Meski begitu, diakui Syarifuddin, persaingan usaha perbengkelan juga tergolong cukup ketat. Hampir setiap pinggir jalan utama hingga pinggiran kota Tegal, kini sudah banyak berdiri bengkel sepeda motor. Ada yang milik perorangan dan ada pula bengkel resmi yang dikelola perusaha otomotif, seperti AHAS Motor dan Yamaha.

Hanya saja, menurut Syarifuddin, untuk bisa bersaing dengan bengkel lain, dibutuhkan inovasi dan pengembangan usaha. Bila tidak, akan tergilas oleh bengkel yang sudah memiliki merek. Seperti Astra motor atau Yamaha.

“Diperlukan terobosan dan pengembangan, serta pelayanan prima”katanya.

Ia mencontohkan soal layanan misalnya, kebanyakan bengkel yang ada belum banyak yang memberikan layanan servis injeksi. Padahal saat ini kebanyakan motor sudah menggunakan teknologi injeksi. Akibatnya, pemilik sepeda motor saat ini memilih service ke bengkel resmi.

“Saya kira ini peluang yang menjanjikan,’katanya.

Kesempatan yang ditangkap Syarifuddin, ketika dipercaya menyelenggarakan program Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggulan (PKWU). Melalui program ini, ia ingin mendidik anak-anak muda di Tegal tidak hanya menjadi pemilik bengkel, tapi juga memiliki skill di bidang mekanik service injek sepeda motor.

“Dengan skill yang dimiliki peserta didik dapat mengembangkan usahanya,” kata Syarifuddin.

Bagi Syarifuddin, pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Pasopati, Kota Tegal Jawa Tengah mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggulan (PKWU) dari Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan merupakan kebanggaan tersendiri. Pasalnya tidak semua lembaga kursus mendapat kesempatan emas itu. Bayangkan di Kabupaten Tegal saja, hanya LKP Pasopati yang ditunjuk Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan untuk menyelenggarakan program tersebut.

Syarifuddin mengaku melalui program PKWU ini membantu mengurangi jumlah pengangguran di Kota Tegal. Hal ini sesuai dengan tujuan awal pendirian LKP Pasopati yakni ingin membantu mengentaskan kemiskinan masyarakat Tegal. Ia juga bertekad ingin menjadikan peserta program PKWU ini nantinya menjadi enterpreuner baru.

“Niat kami ingin membantu masyarakat tidak mampu agar memiliki usaha sendiri,”katanya.

Program PKWU yang ditawarkan Syarifuddin yakni wirausaha bengkel sepeda motor. Menurutnya, usaha bengkel roda dua masih cukup menjanjikan di Kota Tegal. Jumlah pemilik sepeda motor di Kota Bahari itu setiap harinya terus bertambah. Bahkan kini katanya, setiap rumah sudah dipastikan memiliki sepeda motor. Ada yang memiliki dua dan tidak sedikit yang memiliki tiga motor.

“Bisnis perawatan sepeda motor menjadi sangat menjanjikan,” katanya.

LKP Pasopati telah terbukti dapat menyelenggrakan program-program yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, Khususnya dalam peran serta Pemberdayaan Masyarakat, Pengentasan Pengangguran dan kewirausahaan masyarakat. Dan membentuk Bengkel Rintisan Alumni, sehingga mendapat penghargaan dari PT. Astra International Tbk-Honda (Pada Tahun 2011) dalam Penyelenggaraan Program AMJEX (Astra Job Experiece), dan CV.MANS GROUP SEMARANG (Pada Tahun 2013) dalam Penyelenggaraan Workshop Teknologi Sistem Fuel Injection.

Selama ini LKP Pasopati, dikenal sebagai lembaga kursus yang menyelenggarakan kursus otomotif roda dua khususnya untuk sistem injeksi. Bahkan lembaganya sudah mendapat standar Injeksi dari Honda dan Yamaha. Tak heran bila mekanis lulusan Pasopati, kini banyak bekerja di bengkel resmi dan memiliki kemampuan yang sudah standar injeksi Honda dan Yamaha. Setiap tahunnya LKP Pasopati meluluskan 60 hingga 80 orang. Mereka kini ada yang bekerja di bengkel dan ada yang membuat usaha bengkel.

“Lulusan LKP Pasopati lebih banyak membuka usaha bengkel,” katanya.

Soal membina kelompok usaha perbengkelan, LKP Pasopati memiliki pengalaman tersendiri. Menurut Syarifuddin, saat ini lembaganya tengah membina sebanyak 17 kelompok usaha bengkel, alumni LKP Pasopati.

“Kami lebih berorientasikan untuk wirausaha perbengkelan,”katanya. 

Berbekal pengalaman itulah membuat Syarifuddin, memberanikan diri untuk menyelenggarakan PKWU ini dengan usaha perbengkelan. Apalagi diakuinya, saat ini bengkel binaannya, sudah berkembang cukup pesat.

“Kami sudah memiliki pengalamaman membina usaha perbengkelan,” katanya.

Selain berbekal pengalaman, Syarifuddin menuturkan, lembaganya juga memiliki produk inovasi teknologi tepat guna. Namanya DC boster. Sekedar diketahui, DC boster merupakan alat yang ditemukan alumni LKP Pasopati. Alat ini berfungsi untuk menstabilkan sistem kerja kelistrikan kendaraan. Hasil uji coba dari 2011 hingga sekarang, adanya DC boster membuat pemakaian Accu lebih tahan lama.

“Kami berani menjamin accu bisa bertahan lima tahun,” katanya bangga.  

Berbekal itulah, Syarifuddin menyelenggarakan program PKWU. Lembaga dipercayakan untuk melatih sebanyak 15 orang. Meski begitu diakui Syarifuddin yang mendaftar mencapai 52 orang. Karena itu pihaknya melakukan seleksi kepada calon peserta didik. Ada prioritas bagi calon peserta didik. Di ataranya diutamakan masyarakat dari kalangan ekonomi kurang beruntung dan menjadi tulang punggung keluarga. Prioritas lainnya, calon peserta didik adalah dari keluarga yatim piatu.

“Syarat lainnya, calon peserta didik harus memiliki dasar pengetahuan di bidang mekanik,”kata Syarifuddin.

Selain itu, calon perserta didik yang akan mengikuti program PKWU juga harus memiliki dasar di bidang otomotif. Dengan bekal pengetahuan dasar itu, pihaknya tinggal mendidik peserta didik menjadi mekanik yang memiliki standar dunia kerja dan usaha. Peserta didik juga diberikan pengetahuan pengelolan bengkel standar bengkel resmi.

“Untuk itu kami juga melibatkan, instruktur dari AHAS Motor,” katanya.

Pelatihan kewirausahaan ini berlangsung selama 29 hari. Waktunya setiap hari kecuali hari Jumat, dari pagi hingga petang. Proses pelatihan, peserta didik langsung praktik di bengkel resmi yang sudah ditunjuk LKP Pasopati. Waktunya dari pagi hingga siang, sekitar pukul 12.00 WIB. Selanjutnya peserta didik masuk ruang kelas untuk mengikuti pembelajaran teori di Lembaga Kursus.

Sebelum dibekali materi kewirausahaan, lanjut Syarifuddin, peserta didik diberikan keterampilan injeksi sepeda motor. Selanjutnya peserta didik dibekali dengan karakter dan etos kerja. Bahkan selesai proses pembelajaran, peserta didik juga wajib mengikuti uji kompetensi yang diselenggarkaan LKP Pasopati dengan melibatkan pihak Dudi dan Asesor.

Tidak hanya itu saja. Selesai pelatihan, peserta didik juga mengikuti praktik magang di bengkel resmi Astra. Disana peserta didik diajarkan bagaimana mengelola sebuah usaha bengkel. Selama magang, peserta didik diberikan pengetahuan mengenai komunikasi dengan konsumen. Mereka juga diberikan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan usaha bengkel.

Setelah dianggap memiliki bekal yang cukup, kata Syarifuddin, peserta program PKWU dibagi dalam tiga kelompok usaha untuk mendirikan dan merintis usaha bengkel. Namanya bengkel kelompok program PKWU binaan LKP Pasopati. Bengkel binaan itu tersebar di Kecamatan Kramat, Kecamatan Waru Redja dan Kecamatan Suradadi.  

Setiap kelompok usaha bengkel, dibekali modal Rp25 juta. Modal tersebut digunakan untuk sewa tempat dan membeli sperpad serta membeli seperangkat perkakas. “Dengan modal itulah peserta didik langsung praktik membuka usaha,”tutur Syarifuddin.

Selanjutnya, tambah Syarifuddin, setiap dua minggu sekali, ia meninjau ke tempat usaha peserta didik. Disana ia memantau perkembangan usaha masing-masing kelompok usaha. Mulai dari memantau kualitas kerja, mengukur kepuasan pelanggannya dan pengembangan usaha. “Setiap kelompok kami tempatkan satu mekanik alumni LKP Pasopati, untuk menjadi Pembina,” katanya.

Selama proses rintisan usaha, LKP Pasopati, juga membantu untuk mengenalkan usaha bengkel peserta didik kepada masyarakat. Cara dengan menyebarakan brosur ke masyarakat. Selama proses pengenalan itu, LKP Pasopatu memantau dan mengevaluasi perkembangan usahanya. Termasuk layanan yang diberikan kepada konsumen.

Sedangkan untuk menambah penghasilan bengkel, Syarifuddin juga mewajibkan setiap kelompok usaha untuk memasarkan produk DC Boster agar bisa dikenalkan kepada masyarakat. Setiap pelanggan ditawarkan untuk menggunakn DC Boster. Keuntungannya, accu bisa bertahan hingga lima tahun.

“Ini produksi sendiri. Selain mencetak mekanis mesin injeksi, juga dilatih untuk membuat CD Boster,” kata Syarifuddin.

Awal rintisan usaha, Syarifuddin menargetkan setiap kelompok usaha setiap harinya ada minim lima sepeda motor. Dengan begitu seminggu ada 30 motor dan sebulan 120 motor. Selain itu setiap kelompok juga ditarget untuk menjual speerpad.

“Dari situlah ada jaminan penghasilan bagi anggota kelompok,” kata Syarifuddi.

Syarifuddin mengungkapkan, hasil pemantauan terhadap tiga kelompok usaha, baru ada satu kelompk yang mulai berkembang. Di bulan keenam, progres sudah 70 persen. Setiap anggota kelompok sudha bisa menikmati penghasilan sekitar Rp1,4 juta.

“Di tahun pertama usaha penghasilan mereka sudah mencapai Rp2 juta dan sudah memiliki tabungan untuk sewa tempat di tahun kedua,” ujar Syarifuddin.

Menurut Syarifuddin, program PKWU, sangat membantu masyarakat yang kurang mampu. Melalui program ini, masyarakat tidak mampu bukan hanya bisa memiliki usaha, tapi juga memiliki skill di bidang otomotif.

“Program PKWU dapat mengentaskan masyarakat dari kemiskinan,” kata Syarifuddin.

Hanya saja, sebagai penyelenggara program, ia mengaku untuk menciptakan wirausahawan ternyata tidak mudah. Dibutuhkan ketelatenan untuk membangun pola pikir wirausaha peserta didik. Karena itu LKP Pasopati tak henti-hentinya memberikan motivasi peserta didik. Selain itu selama proses merintis usaha, pembinaan juga perlu dilakukan penyelenggara program. Dengan begitu penyelenggara program dapat mengetahui perkembangan usaha setiap kelompok usaha binaannya.

Sejak tahun 2009 hingga kini, LKP Pasopati telah menjadi tempat Uji Kompetensi dengan Penguji  Asesor yang  bersertifikat  dan  DUDI (PT. Astra Internasional Tbk-Honda). LKP Pasopati akan tetap menapakan langkahnya guna mewujudkan visi, membina insan yang berkepribadian Mantap, Kuat, Cerdas Terampil Berjiwa Kewirausahaan dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa , berjati diri Indonesia dan kompetitif secara global.(****)

Semua Berita