Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

Risky Sopya - Berkorban Untuk Pendidikan Kaum Papa

Risky Sopya - Berkorban Untuk Pendidikan Kaum Papa

11 Desember 2018 07:56:43

Hidup dari keluarga kurang mampu, tidak membuat dirinya minder. Tetapi bagi Risky Sopya justru memotivasi dirinya untuk membantu orang senasib dengannya. Sejak kecil, ia bercita-cita ingin memberi dan bermanfaat bagi sesama, terutama orang yang tidak mampu atau kaum papa. Bermodalkan kejujuran, tekat kuat dan amanah. 

Risky Sopya pun menghibahkan hidupnya untuk pendidikan kaum duafa, dengan mendirikan Lembaga Pendidikan RUMAN (Rumah Baca Aneuk Nanggroe) Aceh. Mulai dari menggratiskan pendidikan PAUD (pendidikan anak usia dini) bagi anak-anak yatim piatu dan kekurangan, menebar virus baca dengan TBM (taman bacaan masyarakat), hingga memberi pelatihan keterampilan bagi orang tua yang tidak memiliki penghasilan dan memfasilitasi pendidikan kesetaraan melalui PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat). 

Tsunami yang melanda Kota Banda Aceh pada Minggu pagi 26 Desember 2004, telah meluluh lantakan Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Jutaan orang kehilangan tempat bernaung. Hati mereka diliputi trauma dan duka akibat kehilangan orang-orang terdekat. Menyisakan banyak anak-anak yang kehilangan orang tua dan menderita trauma psikis yang mendalam bagi mereka. Banyak relawan, baik dari warga korban tsunami mau pun dari luar Aceh yang berdatangan membantu pemulihan korban tsunami.

 “Kesedihan dan trauma sangat mendalam menyelimuti korban selamat. Tetapi, bangkit adalah satu-satunya solusi yang harus ditempuh oleh masyarakat Aceh. Kami pun bahu membahu bersama relawan lain memberi pertolongan dan semangat untuk bangkit kembali,” ungkap Risky memulai pembicaraan dengan Warta PAUD dan Dikmas.

Meski Risky dan keluarganya juga korban tsunami. Rumahnya rata dengan tanah dan kehilangan harta benda. Tetapi jiwa Iki (demikian Rizky Sopya biasa disapa), bangkit dan terpanggil untuk memberi bantuan bagi sesama korban, terutama anak-anak.

Selama berbulan-bulan Risky menjadi relawan membantu pemulihan masyarakat Aceh terdampak tsunami. Membuat dirinya memiliki pengalaman sangat berharga dalam memberdayakan masyarakat. Dari kegiatan sebagai relawan, Risky pun dipertemukan jodoh dengan Ahmad Arif, juga relawan berasal dari Aceh Tenggara yang masih berstatus mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya menikah pada 4 Maret 2005 setelah melalui proses ta’aruf sangat kilat.

“Hanya selama 3 hari. Walau sangat singkat, saya merasa cocok dengan bang Arif. Kami punya mimpi yang sama. Yaitu, berbagi untuk sesama,” ujar Risky yang diamini sang suami.

Bencana Tsunami Aceh tahun 2004, menambah keyakinan Risky untuk semakin meluaskan kebermanfaatan kepada sesama, khsususnya warga kurang mampu.

“Saya dan keluarga adalah korban tsunami. Alhamdulillah kami sekeluarga selamat. Meski kami dengan ibu sempat terpisah, ibu sempat tergulung arus gelombang tsunami. Namun kemudian ditemukan di atas atap rumah warga. Tepatnya, ibu kami terdampar di pemancar parabola sebuah rumah,” lirih Risky mengenang bencana alam terbesar abad modern itu.

Setelah menikah, kegiatan Rizky tidak berhenti. Rizky meminta izin sang suami untuk meneruskan impiannya dalam berbagi kepada sesama, terutama bagi yang membutuhkan. Karena Rizky menggandrungi dunia anak, maka difokuskan kegiatan untuk anak-anak. Sedangkan sang suami berusaha membantu melalui manajemen dan taman bacaan. 

Cikal bakal taman bacaan berawal dari koleksi pribadi suaminya yang dibuka pada awal Januari 2007.  Koleksi itu berjumlah 3000 bacaan terdiri dari buku, majalah dan jurnal yang dihimpun sang suami semenjak masih nyantri di pesantren Ar Raudhatul Hasanah, Medan tahun 1993-1999. Dan semakin massif ketika “nyantri” selama 4 tahun di kampus UIN Jakarta. Taman bacaan itu diberi nama, RUMAN yang merupakan akronim dari Rumoh Baca Aneuk Nanggroe. Artinya, rumah baca anak negeri. 

“Tak ada kajian filosofis perihal nama dan logonya. Hanya terlintas di benak dan terasa enak diucapkan. Langsung deh diekskusi. Bahkan, kami baru tahu di kemudian hari, bahwa Ruman itu adalah bahasa Aceh tingkat tinggi (baca: halus). Artinya, wajah”, tutur Rizky tersenyum simpul. 

Awal April 2013, bertempat di rumah tipe 36 yang dibangunkan oleh NGO asal Kuwait bagi para penyintas (korban selamat) tsunami, Rizky menyediakan tempat bagi anak-anak fakir miskin untuk belajar dan bermain bersama. Tanggal itu menjadi penanda dimulainya kegiatan Ruman Aceh secara rutin melalui bimbingan belajar (bimbel) dan pustaka. Lambat laun, semakin banyak anak-anak yang datang hingga mencapai jumlah 130 anak. Meski sempit, namun semangat belajar mereka tetap menggelora. Beragam program pun dilaksanakan di base camp itu.

Setelah banyaknya program yang dibuat dan anak-anak yang belajar. Risky pun berencana memindahkan kegiatan dari rumahnya dan mengontrak sebuah rumah sebagai sekretariat Ruman Aceh. Tanpa dinyana, sang pemilik Rumah mengizinkan untuk ditempati secara gratis. Namun, hal itu hanya berjalan sembilan bulan. Karena sang pemilik rumah kemudian menyampaikan 3 “persyaratan” lain yang menabrak prinsip Ruman Aceh. Pertama, status hukum Ruman Aceh dirubah dari Lembaga Pendidikan (seperti termaktub dalam akte notaris) menjadi Yayasan. Kedua, Ia dan atau istrinya menjadi Pembina Yayasan tersebut. Ketiga, memisahkan antara kelas anak berada dengan anak papa atau keluarga rentan.  Untuk ketiga “syarat” itu, sang pemilik rumah akan menggelontorkan dana sebesar Rp1.5 Milyar.

Syarat itu pun ditolak oleh Rizky dan tim Ruman Aceh. Setelah bermusyawarah dengan suaminya, mereka pun bersepakat menjual mobil Avanza yang awalnya diniatkan pada suatu waktu nanti akan dijual untuk membeli lahan kantor Ruman Aceh yang saat ini terletak di Gampong (Bahasa aceh, artinya Desa) Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

“Hasil penjualan mobil itu kami sewa rumah yang menjadi base camp ini selama 5 tahun, Februari 2016 hingga Februari 2021, sekaligus biaya memperbaiki rumah. Karena kondisi rumah ini sudah rusak berat akibat tsunami,” papar ibunda 2 anak kelahiran 14 Januari 1985 ini. 

Perempuan lulusan sarjana FKIP Jurusan Biologi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini menuturkan pula,  selain pustaka dan bimbel (bimbingan belajar), RUMAN Aceh juga mengadakan beragam kegiatan bagi anak-anak secara gratis. Di awal-awal kegiatan, Rizky mengandalkan dana sepenuhnya dari penghasilan sang suami yang bekerja di Qatar Charity Indonesia Cabang Aceh. Namun, seiring dengan kebutuhan biaya operasional yang semakin tinggi, terutama pendidikan anak-anak duafa di PAUD. Akhirnya biaya operasional dirancang dengan sistem donasi, melalui lelang kebutuhan lewat facebook. Bukan mengajukan proposal ke berbagai instansi pemerintah dan swasta.

“Awalnya kami hanya mengandalkan donasi kawan-kawan dekat sekitar Aceh saja. Tapi, karena kebutuhan terus meningkat, saya berdiskusi dengan suami. Akhirnya, diputuskan sistim lelang melalui sosial media facebook. Kami tidak memberlakukan fee. Tidak ada toleransi dalam hal ini, sehingga kita sering menolak tawaran donasi yang terindikasi “ada udang di balik bakwan”, tegas Rizky.

Selama 2007 – 2012, kegiatan taman bacaan Ruman tidak pernah dipublikasi ke sosial media atau media massa. Hanya tersebar informasi secara lisan. Lalu, sejak akhir tahun 2013, baru membuka jejaring melalui facebook dan sosmed lainnya. Rizky mencoba mengetuk orang yang berkelebihan harta dan dermawan untuk membantu yang berkekurangan.

“Lelang kebajikan lewat facebook itu merupakan realisasi dari salah satu misi RUMAN Aceh. Yaitu, menjadi fasilitator atau jembatan penghubung antara penderma dengan para penerima. Kan, banyak orang dermawan, namun tidak tahu mau diberikan kepada siapa. Alhamdulillah banyak yang menyumbang hingga saat ini,” ungkap Risky. 

Selama 5 tahun bergerak (April 2013 – April 2018), setidaknya ada 10 kegiatan yang pernah dilakukan secara berkelanjutan. Empat di antaranya sudah ditutup. Yaitu, kursus menjahit, kita sahabat Rohingya, TESA PELAN (tebar sarapan untuk penyapu jalan) dan bimbingan belajar. Adapun yang masih berjalan ada 6. Yaitu, pustaka komunitas di base camp, wisata buku gratis MIBARA (minggu baca rame-rame), rumah pustaka untuk daerah yang berjauhan dari base camp, lesehan buku, sekolah PAUD gratis duafa dan program kesetaraan melalui PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat). 

PAUD Ruman Aceh menggratiskan seratus persen 59 anak keluarga dhuafa, anak yatim, anak piatu dan yatim piatu pada tahun ajaran 2018/2019. Selain itu, ada 15 anak lainnya dari keluarga rentaan ekonomi dan sosial yang hanya membayar sebahagian dari biaya pendidikan. Adapun yang berbayar penuh berjumlah 7 anak keluarga berpunya. Tidak ada perbedaan fasilitas, pelayanan dan penyikapan antara anak keluarga papa dengan anak berpunya. 

Untuk menjaga amanah para donatur, Rizky tidak begitu saja menerima anak yang telah mendaftar. Tim Ruman Aceh turun langsung melakukan survey dengan berbagai indikator untuk menentukan gratis, berbayar sebagian dan atau berbayar penuh. Kondisi orang tua (lengkap, cerai atau broken parent), rumah, mata pencaharian, jumlah tanggungan keluarga, handphone serta barang elektronik lainnya menjadi indikator survey tim.

 “Tidak semua yang mendaftar langsung diterima. Kita tidak memakai surat keterangan miskin, karena surat itu bisa dibel”. Setelah mendaftar, kami turunkan bunda-bunda guru untuk mensurvey dan melihat kondisi sebenarnya si anak beserta keluarganya. Sebab yang kita inginkan adalah mereka yang benar-benar tak mampu,” ungkap Riski yang juga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial di Kecamatan Jaya Baru.

Dikatakan Risky, pada tahun ajaran 2018/2019 ini, setiap anak gratis mempunyai donatur tetap yang bersedia berbagi rezeki sebesar Rp 330.000/bulan/anak. Di antara donatur tetap ini ada yang menanggung 1 anak berdua, juga ada yang menanggung 1 anak sendiri, ada pula yang menanggung 2 anak. Bahkan, ada yang menanggung sampai 8 orang anak sekaligus. Sedangkan untuk pendidik, Ruman Aceh memberikan intensif pokok sebesar Rp500 ribu/bulan.

Meski tanpa proposal, kata Risky, mengelola lembaga sosial itu harus ikhlas, jujur dan amanah. Hal itu juga diberlakukan kepada seluruh guru dan relawan Ruman Aceh. Dari kegiatan Mibara, misalnya, Ruman Aceh justru memetik pelajaran sangat berharga. Yaitu, ketika kita mampu memberikan seratus persen kepercayaan kepada masyarakat, hal sama akan dilakukan masyarakat, bahkan lebih. Secara natural, tanpa diminta, tanpa direkayasa.

“Ada 3 landasan fundamental bagi kita di Ruman Aceh. Pertama, kejujuran itu menenangkan hati menenteramkan jiwa. Kedua, jika kita bengkok dalam niat apalagi dalam pelaksanaan, maka Allah pasti akan menjauh, tidak akan menolong kita, bahkan bisa makin hancur. Ketiga, Allah itu Maha Melihat, dan Malaikat akan mencatat apa yang kita perbuat,” ungkap Risky, yang tidak pernah mau mengambil uang dari hasil donasi tersebut.

Selain donasi melalui sahabat-sahabat sosial media facebook. Sumber dana Ruman Aceh lainnya, kata Rizky, dari hasil penjulan karya keterampilan warga belajar. Terutama warga kurang mampu dan tidak memiliki pekerjaan tetap yang difasilitasi PKBM RUMAN Aceh.

Sejak tahun 2014 akhir hingga awal 2016, digelar kursus menjahit gratis buat remaja putri, mahasiswi dan ibu rumah tangga. Sebanyak 65 kaum hawa menjadi peserta dalam 5 gelombang. Lalu dilanjutkan dengan handicraft berupa bros dengan beragam bentuknya seperti tas samping, tas bolak-balik, dompet kosmetik yang bahan bakunya dari limbah jahitan (kain perca). Juga ada tempat jarum pentul yang merupakan kreasi terbaru dari kaleng susu bekas.

Kursus menjahit gratis digelar di sekretariat Ruman Aceh. Semua bahan pelatihan disediakan oleh Ruman, termasuk instrukturnya. Kegiatan tersebut diadakan untuk membekali kaum perempuan dengan beragam keterampilan agar bisa berdaya di tengah persaingan hidup yang semakin keras.

 “Agar tangan mereka bisa memanfaatkan barang-barang bekas menjadi kreasi nan indah. Walau belum bisa membuka usaha menjahit, misalnya, mereka bisa membuat beragam keterampilan tangan yang bernilai ekonomis tinggi”, ungkap Rizki Sopya.

Rizky mengimbuhkan, “Warga belajar PKBM Ruman Aceh pernah mengerjakan orderan 2000 buah bros untuk souvenir pernikahan seorang sahabat. Saat ini, tim kita baru saja menyelesaikan pesanan 700 dompet kosmetik dan 1000 tempat jarum pentul”. 

Keikhlasan dan kesungguhan Risky Bersama tim Ruman Aceh pun mulai dilirik banyak pihak. Bahkan mendapat berbagai penghargaan dan kepercayaan dari berbagai lembaga swasta dan pemerintah. Ruman Aceh mewakili Aceh pada ajang Anugerah Pilar Sosial Kemensos RI ke Jakarta, 16 – 18 Agustus 2015. 

Di tahun 2017, Ruman Aceh meraih juara pertama pengelola TBM (taman bacaan masyarakat) dalam ajang Apresiasi PTK dan DIKMAS Berprestasi Tingkat Aceh. Lalu, peringkat ke-6 dalam ajang serupa yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada level nasional di Bengkulu.

Sedangkan pada tahun 2018, Ruman Aceh meraih juara pertama pengelola PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dalam ajang Apresiasi PTK dan DIKMAS Berprestasi Tingkat Aceh Tahun 2018 yang digelar Dinas Pendididkan dan Kebudayaan Provinsi Aceh. Kemudian, juara ke 7 tingkat nasional dalam even serupa yang dihelat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Pontianak, Kalimantan Barat. Di tahun yang sama, TBM Ruman Aceh mendapat donasi 213 bacaan anak dari ASEAN Charity Golf.

Perjuangan dan pengorbanan panjang Rizky bukan tanpa dasar. Ia terinspirasi dari perilaku almarhum ayahnya yang juga berjiwa sosial. Bahkan, terkadang mengorbankan kepentingan diri dan keluarga untuk orang banyak yang lebih membutuhkan. 

“Terekam dalam memori kami, suatu saat ayah memberikan sebagian daging kurban jatah ayah kepada janda beranak yatim yang saat itu tidak mendapatkan daging qurban. Padahal kami saat itu, jarang makan daging. Ayah merelakan daging itu kepada orang lain yang juga membutuhkan. Dulu kami, untuk makan teri pun harus berbagi,” lirih putri pasangan almarhum Sofyan Adami bin Adam Saleh dan Nurhanisah binti Ismail.

Risky Sopya dengan Ruman Aceh-nya hingga kini telah merias wajah pendidikan Aceh, terutama anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa. Memberi spirit pentingnya pendidikan dan menebar virus baca kepada masyarakat Aceh.

“Kami sangat merasai kesulitan masa kecil, dan terus memaknai tangis masa lalu. Arti Kebersamaan dengan delapan bersaudara dalam keterbatasan saat Ayah berpulang ke Rahmatullah di usia kami masih bersekolah. Arti perjuangan dalam keringat bercucuran dan air mata yang tak terhindarkan. Semoga apa yang saya dan tim lakukan ini mampu mengurangi kesulitan orang-orang, seperti yang kami rasakan dulu. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya sesuai hadits Nabi Muhammad,” pungkas Risky tersenyum (**)

Semua Berita